Senin, 23 April 2012

cerita lain di akhir desember



  Kembali teringat mata teduh itu. Mata yang membuatku jatuh cinta dengan  senyum cantik yang membuatku merasa dunia ini sudah indah tanpa perlu adanya surga. Masih kuingat siang itu. Ketika hati dan ego sudah tak bisa lagi terbendung untuk mencari yang semua orang bilang “kebahagiaan”.
Aku sudah tak begitu ingat bagaimana alur cerita sepasang kekasih yang sedang berusaha memperjuangkan kebahagiaannya masing-masing itu. Ketika sepasang mata itu sekilas memandangiku kemudian melempar senyum,ya... mungkin itu memang yang terbaik buat semuanya.

“Secepat itukah kamu jatuh cinta?”
“Ya.”
“Kenapa?”
“aku tidak tahu. Itu pertanyaan sulit.”
“Sulit bagaimana? Tinggal bilang dia bisa lebih membuatmu bahagia bukan?”
“itu lebih dari sekedar bahagia”
“Apa lebihnya?”
“nah,itu pertanyaan yang sulit.”
“Sulit bagaimana?”

Tapi kenyataannya memang aku telah jatuh cinta. Kenyataannya pula, perempuan yang dikagumi dan dicintai itu ternyata memang tidak ditakdirkan untukku. Dia telah menambatkan hatinya pada hati yang lain, yang mungkin saja mencintai dia dengan cara yang lebih baik dari caraku. Setelah melalui sepenggal skenario penuh drama itu semuanya dibiarkan mengalir,terserah kemana aliran itu menuju.

“Kenapa tak kau katakan cintamu?”
“hatinya sudah ada penghuninya.”
“Cinta itu urusan kamu dengan dia. Bukan urusan kekasihnya.”
“Jadi harus tetap kukatakan cintaku?”
“Coba kamu ingat, sudah berapa kali kau memendam cinta diam-diam seperti itu?”
“ Aku juga tak tahu kenapa aku selalu jatuh cinta di saat yang tidak tepat.”
“Kenapa tak kamu coba katakan? Bisa saja dia lebih memilihmu daripada kekasihnya itu ?”
“Ya,mungkin.  Bisa saja.”
“Hampir semua orang yang punya kekasih masih ragu dan berpikir untuk mencari kekasih yang lebih baik.”
“Ya. Mungkin saja dia menerimaku dan meninggalkan kekasihnya itu.”
“ Lalu kenapa tak kau coba katakan cintamu?”
“Aku tidak bisa.”
“Berarti kamu tidak sedang jatuh cinta. Kamu cuma sedang kesepian.”

Aku tak pernah dan tak mau ambil pusing  dengan segala macam teori tentang cinta. Bagiku tiap orang punya caranya sendiri untuk memaknai apa artinya mencintai itu. Tak terhitung dari banyaknya pengalaman yang didapat dan dari cerita yang kudengar tentang kisah-kisah cinta. Kenyataannya mereka semua menikmati cinta dengan makna yang berbeda-beda itu. Cinta adalah airmata, cinta adalah nafsu, cinta adalah sayang yang teramat sangat, cinta adalah cemburu, cinta adalah kebodohan yang dinikmati bersama-sama, cinta adalah ego, cinta adalah hidup, cinta adalah martabat, cinta adalah kehidupan dan sebagainya, dan sebagainya.

 “Tuhan..”
Ya, anakku.
“Apakah kamu mendengarku?”
Aku selalu berada di dekatmu anakku.
“Aku ingin bertanya.”
Silakan, anakku.
“Kenapa aku begitu mudah jatuh cinta?”
Artinya kau masih punya hati.
“Tapi, kenapa aku selalu jatuh cinta pada hati yang sudah ada pemiliknya?”

“Nak,” suara lirih itu membangunkanku. Aku mengangkat wajahku perlahan. Sesosok cantik wanita  itu berdiri di depanku, memandangiku sambil melemparkan senyum tanggungnya.
 “Apa yang kamu lakukan di sini?”
“Saya? Tentu saja saya mau berdoa,” jawabku.
“Kenapa di sini?”
“Sejak kapan dilarang berdoa di sini?”

Aku memandang sekeliling. Hingga akhirnya baru kusadari betapa sepinya ruangan gereja ini. Lampu-lampu yang kian redup, tempat doa yang kosong, dan pohon natal dengan hiasan yang seadanya dengan sedikit kerlap-kerlip lampu yang menerangi ruang kosong ini. Wanita itu menarikku untuk bangkit dari tempat dudukku. Pandangan mata ini kosong menatap salib yang memandangi bangku-bangku kosong tak berpenghuni di sekitar altar itu.