Clara memandang
keluar jendela. Bias sinar matahari mulai terlihat masuk ke ruang
keluarga dan kursi yang di dudukinya melalui
jendela. Jam dinding menunjukkan angka 7 itu berarti 4 jam sudah dia
melamun, namun hati dan kaki Clara masih juga belum mau diajak berkompromi
untuk meninggalkan kursi itu dari jam 3 pagi. Di dalam pikirannya masih saja hal
yang sama, Angga dan setumpuk dendam yang menahan kelopak matanya untuk terus
terbuka. Clara masih tak habis fikir, entah apa yang ada di otak lelakinya itu.
Clara dengan tubuh indahnya, kulit putih yang selalu membuat teman – temannya
iri, wajah yang cantik luar biasa, dan semua harta berharga yang dimilikinya
termasuk hatinya semua diserahkan pada Angga.Karena tentu saja yang dia yakini
saat itu, Angga adalah jodohnya, calon suami dan ayah dari anak – anaknya
kelak. Bahkan mereka sudah merencanakan pernikahan tahun depan. Tapi yang Angga
lakukan sekarang sama sekali diluar nalar. Berselingkuh dengan wanita yang
bahkan tidak masuk dalam kategori menarik.
Menurut pandangan Clara, Nera hanya wanita biasa,
perempuan kebanyakan yang biasa ditemui di bis kota, di pinggir jalan, di
pasar. Nera datang dari keluarga biasa, wajah standar orang biasa tanpa
perawatan sana sini seperti yang selalu
rutin Clara lakukan di salon – salon langganan Clara yang tentu saja bertarif
diatas rata – rata. Clara tidak pernah mau mempercayakan perawatan tubuhnya di
salon atau tempat perawatan tubuh yang murah, karena menurutnya, kulit dan
tubuhnya adalah investasi masa depannya dan tentu saja untuk membahagiakan
Angga.
Namun entah apa
yang membuat Angga begitu tertarik pada Nera, hingga membuat hati dan hari – harinya yang dulu hanya untuk Clara
seorang berubah menjadi segalanya untuk Nera.
Clara sakit hati, Clara merasa begitu terhina. Semalaman
dia berfikir, apa yang membuat Angga menjadi seperti ini, apa
kekurangannya?Dan..kenapa Nera? Kenapa perempuan biasa itu? Apa yang Angga dapat dari Nera?
_____________________
Semalam, di restoran biasa mereka bertemu, Angga
mengakui semuanya. Kisah cintanya diam – diamnya dengan Nera.
“Maaf, selama ini aku berbohong padamu, aku sudah tidak
menjaga hati dan cinta kita dengan baik. Aku jatuh cinta lagi sayang” , kata
Angga dengan terbata.
“ Kamu sedang bercanda ya sayang?” , jawab Clara yang
saat itu sama sekali tidak menaruh curiga. Angga memang selau member kejutan
yang romantis
tiap mereka bertemu.
“ Aku serius Clara, aku sedang jatuh cinta lagi.” , kali
ini Angga menjawab sambil menatap mata Clara dalam – dalam.
Clara mulai gusar, namun masih belum mempercayai
pendengarannya. Sulit menerima kata – kata Angga masuk ke otak dan hatinya.
“ Jatuh cinta? Dengan siapa?”
“ Seseorang yang mungkin bukan sainganmu, seseorang yang
biasa saja, tapi aku begitu mencintainya Clara, aku begitu mengaguminya karena
dia biasa.”
“ Baiklah, aku ingin bertemu dengannya. “
Angga mengangguk, kemudian memencet nomer di
handphonenya. Angga terlihat berbicara dengan seseorang di telfon. Namun entah
apa yang dia bicarakan Clara tidak mau tau. Selang beberapa menit, dengan
tenang seorang wanita berpenampilan sangat biasa terlihat memasuki restoran.
Wanita itu berjalan mendekati mereka berdua dan lansung duduk d kursi sebelah
Angga. Sekilas Clara melihat Angga dan Nera bertukar pandang dan mengangguk
seakan mereka sudah jauh hari mempersiapkan pertemuan ini. Clara hampir saja
kehilangan kendali, sangat menyakitkan ketika harus melihat dan menyaksikan
kenyataan ini. Seorang perempuan yang sangat biasalah yang mengalahkannya.
--------------------------------------------
Clara memperhatikan penampilan Nera dari ujung rambut
hingga kaki. Rambut Nera berwarna mahogany yang entah di cat dengan cat rambut
merk apa karena menurut Clara warna itu sudah sangat ketinggalan jaman.
Rambutnya juga terlihat kering dan bercabang disana sini. Make up yang menempel
di wajah Nera terlihat sangat murahan. Clara tak bisa membayangkan apa jadinya
kalau kulit wajahnya ditempeli make up semacam itu, kulitnya terlalu sensitif,
bisa jadi iritasi dan jerawat. Saat itu Nera memakai baju warna ungu yang
warnanya tentu saja sudah sangat tidak sedap dilihat dan dipadukan dengan
celana jins yang modelnya hampir sama dengan celana jins Clara yang sudah
dipakainya entah 3 atau 4 tahun yan lalu yang tentu saja sekarang sudah tidak
berada di lemarinya. Entah di tumpukan bajunya yang terbawah atau bahkan
digudang.
“ Jadi sudah berapa bulan kalian berhubungan di
belakangku? “, Clara membuka pembicaraan
setelah berhasil meredakan amarahnya.
Tidak ada yang menjawab. Baik Nera ataupun Angga
terlihat diam dan tertunduk.
“ Sudah berapa bulan kalian berhubungan di belakangku?!”,
Clara mengulang pertanyaan yang sama dengan nada yang lebih keras. Beberapa tamu
restoran lain melihat ke arah mereka, namun hanya beberapa saat. Tamu restoran
yang rata – rata adalah pegawai kantoran yang sedang beristirahat siang itu kembali meneruskan makan siangnya.
“ Tiga bulan terakhir, dan kami sudah melangkah terlalu
jauh Clara,
aku hamil 2 bulan.” , akhirnya Nera yang angkat bicara sambil tentu saja
tersenyum.
“ Kami akan menikah.” , Angga menambahkah.
“ Kalian tega, kalian lebih menjijikkan dari anjing! Baiklah,
kalian boleh pergi, aku tak mau berlama – lama dengan manusia macam kalian”,
Clara berkata setengah berbisik.
“ Baik ,kami pergi. Maafkan aku Clara. Akhir bulan ini
kami akan menikah, aku harap kamu bisa
datang.”, kata Angga. Kemudian dia menggandeng tangan
Nera kekasih barunya, dan pergi meninggalkan restoran.
Gerangan apa yang ada di otak Angga, begitu saja dia
menyakiti Clara, meninggalkannya dan sekarang dia meminta Clara datang ke
pernikahannya dengan wanita lain. Setolol itukah lelaki yang sudah menemaninya
selama bertahun – tahun. Clara merasa selama ini dialah yang paling mengenal
Angga, ternyala justru dialah yang paling tidak tau apa – apa.
---------------------------------------
Clara kembali melirik jam dinding, hampir jam 8 pagi. Sedikit memaksakan diri, Clara
berjalan ke kamar mandi. Di depan wastafel dia sempat berkaca, melihat sisa tangis di
matanya. Sembab dan bengkak. Oh tidak! Clara teringat hari ini dia ada
pertemuan dengan klien penting. Tidak boleh ada yang tidak sempurna. Sepertinya
hari ini dia akan butuh banyak conclear untuk bagian bawah
matanya. Well, itu masih bisa diatasi. Menghadapi dan bernegosiasi dengan klien besar memang
keahlian Clara. Dengan fisik yang bisa dibilang diatas rata – rata, hampir tidak ada klien yang meleset.
Tapi menghadapi rasa sakit hati yang masih tersisa justru yang lebih
menakutkan.
Apa Clara sanggup menghadap hari – harinya tanpa Angga?
5 tahun menjalin hubungan dengan Angga, selama itulah Angga begitu sangat
sempurna. Baik, lembut, pengertian, wajah dan tubuh yang sudah tidak diragukan
lagi kesempurnaannya.
“Ahh Angga lagi, sudahlah Clara, mulailah menerima
kenyataan”, bisik clara pada pantulan dirinya di cermin.
Clara memutuskan untuk segera mandi. Bersama air
mandinya dia berharap segala kenangan dan perasaannya terhadap Angga bias ikut
luruh dan mengalir pergi.
Selesai mandi, Clara mengenakan baju terbaiknya untuk
klien kali ini, karena klien ini sangat penting untuknya serta kelangsungan
perusahaan yang mempekerjakannya. Dia sudah kehilangan Angga, Clara tidak mau
kalau dia
juga sampai harus kehilangan pekerjaan. Walaupun setiap kali bayangan Angga
melintas, rasa sakitnya terasa menyayat, tapi Clara yakin dia bisa bertahan.
____________________
Dan begitulah Clara ,melanjutkan hidupnya selama hampir
3 bulan berjalan dengan rasa sakit yang mulai memudar dari hari ke hari seiring
berjalannya waktu. Sedikt demi sedikit Clara mulai bisa hidup tanpa Angga dan
mulai bisa menerima kenyataan walaupun masih belum bisa mengikhlaskan. Berat
memang, namun pada kenyataannya dia bisa dengan sukses kembali ke kehidupannya
dan membangun kehidupan yang baru.
Waktu masih menunjukkan pukul 17.15, Clara baru saja
sampai di cafĂ© kopi tempat dia dan teman – temannya biasa menghabiskan sore
bersama. Sejak putus dari Angga Clara memang lebih sering menghabiskan waktu
bersama teman temannya. Seperti sore ini, menunggu teman – temannya datang,
Clara memilih kursi di dekat jendela kaca. Untuk Clara, jendela dan bias sinar
matahari selau terlihat romantis dan menenangkan. Tiba – tiba ponsel Clara
berbunyi. Tertera nomor yang sudah sangat dikenalnya walaupun nama itu sudah ia hapus dari
kontak telfonnya 3 bulan lalu. Angga. Untuk apa angga menghubunginya lagi?
“ Halo…”, kata Clara enggan dan sedikit ragu.
“ Clara? Apa kabar? Aku kangen.”
“ Baik, dan aku tidak.” , jawab clara datar.
“ Maaf Clara, ak bersalah padamu”
“ Ya, aku tau, lalu?”
“ Nera… “
“ Istrimu?Kenapa?”
“ Bukan, kami bahkan tidak pernah menikah, dia memilih
untuk pergi meninggalkanku bersama laki – laki lain, ayah dari anak yang
dikandungnya. Dan kamu tau Clara, laki – laki itu bukan siapa – siapa, laki –
laki biasa yang jauh dibanding aku”.
Klek…..tuuut…tuuuuut…tuuuut… Clara menutup sambungan telfon.
Masih terus menatap layar ponselnya, Clara tersenyum.
Lama
nggaknya suatu hubungan itu tidak
menentukan langgeng nggaknya suatu
hubungan, mau jadi mantan atau manten di acara resepsi itu pilihan.