Rabu, 30 April 2014

hati-hati dalam memilih hati ~

"keputusanku waktu itu untuk meninggalkanmu karena aku tidak mungkin menolak keinginan orang tuaku,dan aku yakin kau juga pasti tahu akan hal itu"
"...dan keputusanku itu bukan karena dia,bukan karena hatiku yang memilih dia"
"tapi...karena anak dalam kandunganku ini,karena anak ini aku memilih dia. aku tak ingin anak yang tak bersalah ini tak mengenal siapa ayahnya"

Tidak penting lagi apa yang sudah terjadi diantara kalian berdua waktu itu, yang ada sekarang cuma ucapan selamat dan semoga bahagia sampai kalian berdua mati nanti.
Walaupun hatimu memilih aku seperti juga hati ini yang memilih kamu, tapi kadang hati bisa tumbuh dan bertahan dengan pilihan yang lain.

mungkin cinta sedang melakukan kesalahan

sebuah skenario penuh drama itu dibiarkan mengalir begitu saja, pasrah kepada kemana aliran itu membawanya

"kenapa tak kau nyatakan perasaanmu? cintamu?"
"hatinya sudah ada pemiliknya"
"cinta itu urusan kamu dengan dia, bukan urusan kekasihnya"
"jadi harus tetap ku katakan kepadanya?"
"sudah berapa kali kamu memendam perasaan diam-diam seperti ini?"
"aku juga tak tahu kenapa tiap kali jatuh cinta selalu disaat yang tidak tepat, aku rasa ini semacam kutukan"

siapa yang melakukan kesalahan? 
kita?
atau cinta itu sendiri?

Rabu, 23 April 2014

"clara"

Clara memandang  keluar jendela. Bias sinar matahari mulai terlihat masuk ke ruang keluarga dan kursi yang di dudukinya melalui  jendela. Jam dinding menunjukkan angka 7 itu berarti 4 jam sudah dia melamun, namun hati dan kaki Clara masih juga belum mau diajak berkompromi untuk meninggalkan kursi itu dari jam 3 pagi. Di dalam pikirannya masih saja hal yang sama, Angga dan setumpuk dendam yang menahan kelopak matanya untuk terus terbuka. Clara masih tak habis fikir, entah apa yang ada di otak lelakinya itu. Clara dengan tubuh indahnya, kulit putih yang selalu membuat teman – temannya iri, wajah yang cantik luar biasa, dan semua harta berharga yang dimilikinya termasuk hatinya semua diserahkan pada Angga.Karena tentu saja yang dia yakini saat itu, Angga adalah jodohnya, calon suami dan ayah dari anak – anaknya kelak. Bahkan mereka sudah merencanakan pernikahan tahun depan. Tapi yang Angga lakukan sekarang sama sekali diluar nalar. Berselingkuh dengan wanita yang bahkan tidak masuk dalam kategori menarik.
Menurut pandangan Clara, Nera hanya wanita biasa, perempuan kebanyakan yang biasa ditemui di bis kota, di pinggir jalan, di pasar. Nera datang dari keluarga biasa, wajah standar orang biasa tanpa perawatan sana sini  seperti yang selalu rutin Clara lakukan di salon – salon langganan Clara yang tentu saja bertarif diatas rata – rata. Clara tidak pernah mau mempercayakan perawatan tubuhnya di salon atau tempat perawatan tubuh yang murah, karena menurutnya, kulit dan tubuhnya adalah investasi masa depannya dan tentu saja untuk membahagiakan Angga.
 Namun entah apa yang membuat Angga begitu tertarik pada Nera, hingga membuat hati dan  hari – harinya yang dulu hanya untuk Clara seorang berubah menjadi segalanya untuk Nera.
Clara sakit hati, Clara merasa begitu terhina. Semalaman dia berfikir, apa yang membuat Angga menjadi seperti ini, apa kekurangannya?Dan..kenapa Nera? Kenapa perempuan biasa itu? Apa yang  Angga dapat dari Nera?
_____________________
Semalam, di restoran biasa mereka bertemu, Angga mengakui semuanya. Kisah cintanya diam – diamnya dengan Nera.
“Maaf, selama ini aku berbohong padamu, aku sudah tidak menjaga hati dan cinta kita dengan baik. Aku jatuh cinta lagi sayang” , kata Angga dengan terbata.
“ Kamu sedang bercanda ya sayang?” , jawab Clara yang saat itu sama sekali tidak menaruh curiga. Angga memang selau member kejutan yang romantis tiap mereka bertemu.
“ Aku serius Clara, aku sedang jatuh cinta lagi.” , kali ini Angga menjawab sambil menatap mata Clara dalam – dalam.
Clara mulai gusar, namun masih belum mempercayai pendengarannya. Sulit menerima kata – kata Angga masuk ke otak dan hatinya.
“ Jatuh cinta? Dengan siapa?”
“ Seseorang yang mungkin bukan sainganmu, seseorang yang biasa saja, tapi aku begitu mencintainya Clara, aku begitu mengaguminya karena dia biasa.”
“ Baiklah, aku ingin bertemu dengannya. “
Angga mengangguk, kemudian memencet nomer di handphonenya. Angga terlihat berbicara dengan seseorang di telfon. Namun entah apa yang dia bicarakan Clara tidak mau tau. Selang beberapa menit, dengan tenang seorang wanita berpenampilan sangat biasa terlihat memasuki restoran. Wanita itu berjalan mendekati mereka berdua dan lansung duduk d kursi sebelah Angga. Sekilas Clara melihat Angga dan Nera bertukar pandang dan mengangguk seakan mereka sudah jauh hari mempersiapkan pertemuan ini. Clara hampir saja kehilangan kendali, sangat menyakitkan ketika harus melihat dan menyaksikan kenyataan ini. Seorang perempuan yang sangat biasalah yang mengalahkannya.
 --------------------------------------------
Clara memperhatikan penampilan Nera dari ujung rambut hingga kaki. Rambut Nera berwarna mahogany yang entah di cat dengan cat rambut merk apa karena menurut Clara warna itu sudah sangat ketinggalan jaman. Rambutnya juga terlihat kering dan bercabang disana sini. Make up yang menempel di wajah Nera terlihat sangat murahan. Clara tak bisa membayangkan apa jadinya kalau kulit wajahnya ditempeli make up semacam itu, kulitnya terlalu sensitif, bisa jadi iritasi dan jerawat. Saat itu Nera memakai baju warna ungu yang warnanya tentu saja sudah sangat tidak sedap dilihat dan dipadukan dengan celana jins yang modelnya hampir sama dengan celana jins Clara yang sudah dipakainya entah 3 atau 4 tahun yan lalu yang tentu saja sekarang sudah tidak berada di lemarinya. Entah di tumpukan bajunya yang terbawah atau bahkan digudang.
“ Jadi sudah berapa bulan kalian berhubungan di belakangku? “,  Clara membuka pembicaraan setelah berhasil meredakan amarahnya.
Tidak ada yang menjawab. Baik Nera ataupun Angga terlihat diam dan tertunduk.
“ Sudah berapa bulan kalian berhubungan di belakangku?!”, Clara mengulang pertanyaan yang sama dengan nada yang lebih keras. Beberapa tamu restoran lain melihat ke arah mereka, namun hanya beberapa saat. Tamu restoran yang rata – rata adalah pegawai kantoran yang sedang beristirahat siang itu  kembali meneruskan makan siangnya.
“ Tiga bulan terakhir, dan kami sudah melangkah terlalu jauh Clara, aku hamil 2 bulan.” , akhirnya Nera yang angkat bicara sambil tentu saja tersenyum.
“ Kami akan menikah.” , Angga menambahkah.
“ Kalian tega, kalian lebih menjijikkan dari anjing! Baiklah, kalian boleh pergi, aku tak mau berlama – lama dengan manusia macam kalian”, Clara berkata setengah berbisik.
“ Baik ,kami pergi. Maafkan aku Clara. Akhir bulan ini kami akan menikah, aku harap kamu bisa datang.”, kata Angga. Kemudian dia menggandeng tangan Nera kekasih barunya, dan pergi meninggalkan restoran.
Gerangan apa yang ada di otak Angga, begitu saja dia menyakiti Clara, meninggalkannya dan sekarang dia meminta Clara datang ke pernikahannya dengan wanita lain. Setolol itukah lelaki yang sudah menemaninya selama bertahun – tahun. Clara merasa selama ini dialah yang paling mengenal Angga, ternyala justru dialah yang paling tidak tau apa – apa.

---------------------------------------
Clara kembali melirik jam dinding, hampir  jam 8 pagi. Sedikit memaksakan diri, Clara berjalan ke kamar mandi. Di depan wastafel dia sempat berkaca, melihat sisa tangis di matanya. Sembab dan bengkak. Oh tidak! Clara teringat hari ini dia ada pertemuan dengan klien penting. Tidak boleh ada yang tidak sempurna. Sepertinya hari ini dia akan butuh banyak conclear untuk bagian bawah matanya. Well, itu masih bisa diatasi. Menghadapi dan bernegosiasi dengan klien besar memang keahlian Clara. Dengan fisik yang bisa dibilang diatas rata – rata, hampir tidak ada klien yang meleset. Tapi menghadapi rasa sakit hati yang masih tersisa justru yang lebih menakutkan.
Apa Clara sanggup menghadap hari – harinya tanpa Angga? 5 tahun menjalin hubungan dengan Angga, selama itulah Angga begitu sangat sempurna. Baik, lembut, pengertian, wajah dan tubuh yang sudah tidak diragukan lagi kesempurnaannya.
“Ahh Angga lagi, sudahlah Clara, mulailah menerima kenyataan”, bisik clara pada pantulan dirinya di cermin.
Clara memutuskan untuk segera mandi. Bersama air mandinya dia berharap segala kenangan dan perasaannya terhadap Angga bias ikut luruh dan mengalir pergi.
Selesai mandi, Clara mengenakan baju terbaiknya untuk klien kali ini, karena klien ini sangat penting untuknya serta kelangsungan perusahaan yang mempekerjakannya. Dia sudah kehilangan Angga, Clara tidak mau kalau dia juga sampai harus kehilangan pekerjaan. Walaupun setiap kali bayangan Angga melintas, rasa sakitnya terasa menyayat, tapi Clara yakin dia bisa bertahan.

____________________
Dan begitulah Clara ,melanjutkan hidupnya selama hampir 3 bulan berjalan dengan rasa sakit yang mulai memudar dari hari ke hari seiring berjalannya waktu. Sedikt demi sedikit Clara mulai bisa hidup tanpa Angga dan mulai bisa menerima kenyataan walaupun masih belum bisa mengikhlaskan. Berat memang, namun pada kenyataannya dia bisa dengan sukses kembali ke kehidupannya dan membangun kehidupan yang baru. 
Waktu masih menunjukkan pukul 17.15, Clara baru saja sampai di cafĂ© kopi tempat dia dan teman – temannya biasa menghabiskan sore bersama. Sejak putus dari Angga Clara memang lebih sering menghabiskan waktu bersama teman temannya. Seperti sore ini, menunggu teman – temannya datang, Clara memilih kursi di dekat jendela kaca. Untuk Clara, jendela dan bias sinar matahari selau terlihat romantis dan menenangkan. Tiba – tiba ponsel Clara berbunyi. Tertera nomor yang sudah sangat dikenalnya walaupun nama itu sudah ia hapus dari kontak telfonnya 3 bulan lalu. Angga. Untuk apa angga menghubunginya lagi?
“ Halo…”, kata Clara enggan dan sedikit ragu.
“ Clara? Apa kabar? Aku kangen.”
“ Baik, dan aku tidak.” , jawab clara datar.
“ Maaf Clara, ak bersalah padamu”
“ Ya, aku tau, lalu?”
“ Nera… “
“ Istrimu?Kenapa?”
“ Bukan, kami bahkan tidak pernah menikah, dia memilih untuk pergi meninggalkanku bersama laki – laki lain, ayah dari anak yang dikandungnya. Dan kamu tau Clara, laki – laki itu bukan siapa – siapa, laki – laki biasa yang jauh dibanding aku”.
Klek…..tuuut…tuuuuut…tuuuut… Clara menutup sambungan telfon. Masih terus menatap layar ponselnya, Clara tersenyum.

  Lama nggaknya  suatu hubungan itu tidak menentukan   langgeng nggaknya suatu hubungan, mau jadi mantan atau manten di acara resepsi itu pilihan.