Kembali teringat mata teduh itu. Mata yang
membuatku jatuh cinta dengan senyum
cantik yang membuatku merasa dunia ini sudah indah tanpa perlu adanya surga.
Masih kuingat siang itu. Ketika hati dan ego sudah tak bisa lagi terbendung
untuk mencari yang semua orang bilang “kebahagiaan”.
Aku sudah tak
begitu ingat bagaimana alur cerita sepasang kekasih yang sedang berusaha
memperjuangkan kebahagiaannya masing-masing itu. Ketika sepasang mata itu
sekilas memandangiku kemudian melempar senyum,ya... mungkin itu memang yang
terbaik buat semuanya.
“Secepat itukah kamu jatuh cinta?”
“Ya.”
“Kenapa?”
“aku tidak tahu. Itu pertanyaan sulit.”
“Sulit bagaimana? Tinggal bilang dia bisa lebih membuatmu
bahagia bukan?”
“itu lebih dari sekedar bahagia”
“Apa lebihnya?”
“nah,itu pertanyaan yang sulit.”
“Sulit bagaimana?”
Tapi kenyataannya
memang aku telah jatuh cinta. Kenyataannya pula, perempuan yang dikagumi dan
dicintai itu ternyata memang tidak ditakdirkan untukku. Dia telah menambatkan
hatinya pada hati yang lain, yang mungkin saja mencintai dia dengan cara yang
lebih baik dari caraku. Setelah melalui sepenggal skenario penuh drama itu
semuanya dibiarkan mengalir,terserah kemana aliran itu menuju.
“Kenapa tak kau katakan cintamu?”
“hatinya
sudah ada penghuninya.”
“Cinta itu urusan kamu dengan dia. Bukan urusan kekasihnya.”
“Jadi
harus tetap kukatakan cintaku?”
“Coba kamu ingat, sudah berapa kali kau memendam cinta diam-diam
seperti itu?”
“ Aku juga
tak tahu kenapa aku selalu jatuh cinta di saat yang tidak tepat.”
“Kenapa tak kamu coba katakan? Bisa saja dia lebih memilihmu
daripada kekasihnya itu ?”
“Ya,mungkin.
Bisa saja.”
“Hampir semua orang yang punya kekasih masih ragu dan berpikir
untuk mencari kekasih yang lebih baik.”
“Ya.
Mungkin saja dia menerimaku dan meninggalkan kekasihnya itu.”
“ Lalu kenapa tak kau coba katakan cintamu?”
“Aku tidak
bisa.”
“Berarti kamu tidak sedang jatuh cinta. Kamu cuma sedang
kesepian.”
Aku tak
pernah dan tak mau ambil pusing dengan
segala macam teori tentang cinta. Bagiku tiap orang punya caranya sendiri untuk
memaknai apa artinya mencintai itu. Tak terhitung dari banyaknya pengalaman
yang didapat dan dari cerita yang kudengar tentang kisah-kisah cinta. Kenyataannya
mereka semua menikmati cinta dengan makna yang berbeda-beda itu. Cinta adalah
airmata, cinta adalah nafsu, cinta adalah sayang yang teramat sangat, cinta
adalah cemburu, cinta adalah kebodohan yang dinikmati bersama-sama, cinta
adalah ego, cinta adalah hidup, cinta adalah martabat, cinta adalah kehidupan
dan sebagainya, dan sebagainya.
“Tuhan..”
Ya, anakku.
“Apakah kamu mendengarku?”
Aku selalu berada di dekatmu anakku.
“Aku ingin bertanya.”
Silakan, anakku.
“Kenapa aku begitu mudah jatuh cinta?”
Artinya kau masih punya hati.
“Tapi, kenapa aku selalu jatuh cinta pada hati yang sudah ada
pemiliknya?”
“Nak,”
suara lirih itu membangunkanku. Aku mengangkat wajahku perlahan. Sesosok cantik
wanita itu berdiri di depanku, memandangiku
sambil melemparkan senyum tanggungnya.
“Apa yang kamu lakukan di sini?”
“Saya?
Tentu saja saya mau berdoa,” jawabku.
“Kenapa di
sini?”
“Sejak
kapan dilarang berdoa di sini?”
Aku
memandang sekeliling. Hingga akhirnya baru kusadari betapa sepinya ruangan
gereja ini. Lampu-lampu yang kian redup, tempat doa yang kosong, dan pohon
natal dengan hiasan yang seadanya dengan sedikit kerlap-kerlip lampu yang
menerangi ruang kosong ini. Wanita itu menarikku untuk bangkit dari tempat dudukku.
Pandangan mata ini kosong menatap salib yang memandangi bangku-bangku kosong
tak berpenghuni di sekitar altar itu.
wahhh....."pengakuan dosa" di greja mas?
BalasHapusbtw, cinta itu sederhana koq sbenernya....tinggal kitanya aja yg nantinya malah membuat cinta mjd rumit atau tdk
karna cinta itu cuma butuh kepercayaan dan pengakuan,selebihnya cuma partikel-partikel pendukung yg akan membuat cinta itu tampak lbh indah
Hapus